Hmm, ivan. Aku tak tahu harus memulai darimana, tapi aku ingin menyampaikan sesuatu untukmu..
Sebenernya aku berharap Tuhan memberikan aku satu kesempatan untuk berbicara tentang semua perasaanku selama enam tahun ini. Tapi sepertinya Tuhan tak memberikan aku waktu untuk berbicara denganmu, karna itulah aku menulis semua yang aku rasakan, biarlah ini menjadi sebuah pesan yang tak tersampaikan.
Ivan, jujur saja waktu pertama aku melihatmu aku sudah merasakan ada getaran aneh pada diriku. Aku tak tahu itu, karna pada saat itu aku masih belum benar-benar mengerti artinya jatuh cinta dan pada saat pandangan pertama. Ya, kita bertemu pertama kali saat pembukaan MOS di SMP. Masih bau kencur sekali kita, masih dibilang cinta monyet. Akupun dulu berfikir begitu, mungkin perasaan ini akan berlalu begitu saja. Tapi ivan, rasa ini tak pernah sedikitpun berlalu sampai detik ini. Mungkin kamu akan berfikir aku berbohong. Tapi benar ivan, disaat aku bertemu denganmu secara tak sengaja aku masih merasakan getaran itu. Setiap aku melewati rumahmu, aku berharap kau ada walau kamu tak menyadari keberadaanku. Aku juga heran ivan, mengapa hatiku masih menyimpan rasa itu, kamu kan tahu kita dekat ditahun pertama sekolah. Waktu itu kita kemana-mana slalu bertiga aku, kamu dan rangga. Kamu tahu ivan? Satu tahun itu adalah saat-saat paling membagiakan untukku. Aku ingat, saat guru memberikan games tutup mata dan tangkap, waktu itu aku dan beberapa teman yang lain tidak medapat tempat untuk bersembunyi tapi tiba-tiba dari kolong meja kamu menarik rokku dan berbisik “sini aja ngumpetnya sama gue, aman” sungguh ivan aku masih mengingat itu. Tapi tak apa kalau kamu tidak mengingatnya, itu wajar karna itu hanya hal kecil yang tidak penting. Aku slalu tersenyum setiap mengingatmu, rasanya aku mendengar renyahnya tawamu. Kamu berada didepanku ivan, kamu sedang tertawa. Kita slalu tertawa ivan. Dulu, kamu adalah penyemangatku untuk pergi sekolah ,ivan. Aku slalu berusaha tidak sakit agar aku dapat masuk sekolah hanya karna ingin melihat senyummu, tertawa dan bersamamu ivan.
Ivan, sejujurnya aku sangat menyukai melihatmu saat bermain sepak bola. Disaat itu, aku melihat sosok yang sangat sempurna. Kulit putihmu menjadi merah berkilat diterpa hangatnya sinar matahari yang bercampur dengan peluhmu. Rambut gondrongmu tersibak dibelai angin rindang, tumbuh jangkungmu yang menjadikanmu sangat terlihat, lambaian tangan dan teriakan “yeeesss” slalu kamu tujukkan padaku saat kamu berhasil mencetak skor, tak lupa kamu juga memberikan senyuman termanis yang mampu meluruhkan semua tulang-tulangku, membuat aku lemah terhadapmu. Sungguh ivan, aku masih bisa merasakannya sampai saat ini. Satu tahun itu menjadi tahun terbaik yang pernah kulalui, karna ditahun itu aku dengan leluasa memandangimu, selama apapun itu, aku tahu perkembanganmu, aku bisa dengan mudahnya mencurahkan seluruh perhatianku tanpa harus takut kamu akan menjauhiku. Andai saja kamu tahu ivan..
Tapi ivan, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kebahagiaan itu telah berubah menjadi hari-hari kelam sepanjang hidupku. Bagaimana tidak, tanpa alasan kamu menjauhiku. Kamu tak pernah memberikan aku kejelasan mengapa kamu melakukan itu padaku. Apa aku membuatmu marah ivan? Apa aku telah membuat kesalahan sampai membuatmu begitu benci padaku? Aku tak tahu ivan, sungguh. Setiap malam ivan, hampir tiap malam aku slalu mennagisimu. Aku slalu teringat senyumku yang kamu acuhkan, kamu slalu berpura-pura tak mendengar sapaanku, kamu yang slalu menolehkan muka ketika dari kejauhan melihatku dan kamu yang slalu lebih memilih memutar arah apabila kita akan berpapasan. Kamu tahu ivan? Itu sangat menyakitkan buatku, rasanya aku seperti mahkluk yang paling hina dimatamu. Mengapa kamu cepat seklai berubah ivan? Dan mengapa kamu lakukan itu sampai kita lulus? Mengapa kamu tak memberiku kesempatan untuk meminta maaf dan setidaknya memberikanku satu senyumanmu?
Maaf, aku kembali menangis mengingat itu semua. Hanya saja saat itu aku benar-benar tak siap dengan perubaha sikapmu itu. Terlebih lagi ketika aku tahu kamu berpacaran dengan putri. Rasanya seluruh pertahanan hatiku luruh seketika, semangatku yang dulu berkobar telah padam, keinginan untuk tertawa bersamamu tak ada lagi. Hmm, rasanya terdengar aneh dengan usia aku saat itu yang baru menuju tiga belas tahun. Tapi itulah yang aku rasakan saat itu ivan, saat aku melihatmu berjalan bersama perempuanmu, saat aku melihatmu tertawa bersamanya, dan saat aku pertama kali melihatmu memeluknya. Tak perlu aku ceritakan bagaimana ‘down’nya aku saat itu. Bagaimana hancurnya hatiku, aku hanya bisa menangis dikamar mandi skolah ivan. Aku berharap pada saat itu Tuhan membutakan mataku, agar aku tak dapat melihat senyummu lagi. A ku berharap telinga ku tak lagi berfungsi, agar aku tak dapat mendengar suara tawamu yang slalu ku rindukan. Aku tak kuasa ivan. Aku seorang “ABG” yang baru tahu soalcinta, aku baru tahu rasanya jatuh cinta, rasanya ingin slalu dekat denganmu, slalu ingin kau perhatikan, slalu ingin menjadi orang yang mendengar ceritamu pertama kali. Aku baru tahu ivan. Tapi kenapa kamu dengan mudahnya menghancurkan seluruh kebahagiaanku ivan? Kamu tidak pernah tahu rasa sakit itu ivan. Rasanya terkhianati, rasanya kehilangan. Kamu tidak tahu.
Tapi ivan, walaupun seperti itu, walaupun kamu telah menghancurkan hatiku aku tetap mencoba mencari tahu tentangmu. Masih mempedulikanmu. Aku ingin sekali marah padamu, aku ingin sekali membencimu, tapi aku tidak bisa ivan. Kamu itu siapa sebenarnya? Apa yang sudah kamu lakukan sampai bisa membuatku seperti ini? Kamu jahat ivan.
Mungkin rasa sakitku akan sedikit berkurang ketika aku memilih melanjutkan sekolah didaerah lain, saat itu aku berfikir aku tak akan lagi membuang air mataku, aku tak lagi akan sakit hati, aku tak akan lagi tersiksa dengan perasaanku, aku tak akan lagi merasakan cemburu dan mungkin aku dapat melupakanmu. Tapi aku salah ivan, sebuah rasa memaksaku untuk slalu mencari bayangmu, rasa itu slalu mampu membuatku menyerah pada keputusanku, rasa itu yang slalu membayangiku, ternyata aku lebih tersiksa ivan. Aku merindukanmu.
Tak tahukah kau ivan? Berapa banyak puisi yang tercipta untukmu? Berapa banyak air mataku yang jatuh karna menangisimu? Berapa seringnya hatiku hancur olehmu? Betapa sulitnya aku mencoba membangun benteng pertahananku agar aku tak terlihat lemah didepanmu? Betapa tersiksanya saat aku merindukanmu? Betapa putus asanya aku saat aku tahu kamu berubah? Betapa inginnya akukamu akan kembali seperti dulu? Betapa seringnya aku mendoakan agar kau cepat putus dengan pacarmu? Dan kamu tidak tahu kan ivan berapa lama aku menyimpan perasaan ini untukmu?
Ivan,
Saat ini aku hanya berharap kamu tahu disini ada seseorang yang telah lama mengagumimu, bersimpati padamu, menyukai semua hal tentangmu, menyayangimu dengan sepenuh hati dan jatuh cinta padamu. Aku tak mengaharapkan balasan atau respon darimu, aku hanya ingin kamu tahu tentang perasaanku, tentang betapa berharganya kamu dihidupku, dan aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Karna kamu aku tahu rasanya jatuh cinta dan diam-diam mengagumi itu seperti apa, dan kamu juga mengajarkan aku rasanya kehilangan.
Ivan,
Aku tak tahu apakah Tuhan akan mempertemukan kita suatu saat nanti, kalau kita diberi kesempatan bertemu aku berharap mendapatkan senyummu. Itu saja. Aku berdoa untukmu ivan, semoga kamu bahagia dengan wanita pilahanmu kelak.
Bye, envini
Komentar Terakhir